MEMBANGUN KESADARAN BERKONSTITUSI MELALUI GERAKAN SISWA MENULIS LEWAT KALAWERTA SEKOLAH (IMPLEMENTASI HAK BERPENDAPAT)

MEMBANGUN KESADARAN BERKONSTITUSI MELALUI GERAKAN SISWA MENULIS LEWAT KALAWERTA SEKOLAH

(IMPLEMENTASI HAK BERPENDAPAT)

Oleh Fuad Aljihad

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.     Latar Belakang

Menulis di kalawerta (media massa) merupakan salah satu hak konstitusional yang dijamin oleh UUD 1945, yaitu Pasal 28, 28 E Ayat 3, dan Pasal 28 F. Pasal 28 dan 28 E ayat 3 memberikan jaminan warga negara tentang kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan. Pasal 28 F lebih khusus tentang hak menyampaikan pemikiran dan memperoleh informasi, yaitu mencari, memperoleh, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran.

Dalam Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Pasal 1 (angkan 1) menyatakan bahwa pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.

Dalam realitasnya, minat membaca dan menulis di Indonesia masih sangat rendah dan kurang. Hasil survai UNESCO menyatakan  Indonesia adalah negara dengan minat baca masyarakat paling rendah di ASEAN (Diakses: 16 Juni 2013, http://otomotif.kompas. com). Menurut United Nations Development Programme (UNDP) dari data Human Development Index (HDI) terbaru, dari 169 negara Indonesia menduduki peringkat atau urutan ke-108. (Diakses: 16 Juni 2013, http://www.tempo.com). Sedangkan Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan pada tahun 2006 masyarakat Indonesia belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Orang lebih tertarik dan memilih menonton TV (85,9%) dan atau mendengarkan radio (40,3%), daripada membaca koran (23,5%). (Diakses: 16 Juni 2013, http://harikaryo.wordpress.com).

Terkait dengan mambaca adalah kegiatan menulis. Abdul Khak – Kepala Balai Bahasa Bandung, mengatakan tradisi menulis di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan dengan tradisi membaca, terlebih di kalangan generasi muda. Rendahnya tradisi menulis, menurut Abdul Khak, akibat rendahnya minat membaca. (Diakses: Minggu, 16 Juni 2013, http://otomotif.kompas.com).

Keprihatinan rendahnya minat menulis juga dirasakan di kalangan mahasiswa. Dewi Pusposari, dosen matakuliah Bahasa Indonesia Keilmuan Universitas Negeri Malang, dalam perkuliahnnya memaparkan bahwa budaya menulis di Indonesia, khususnya di kalangan mahasiswa dirasa kurang oleh beberapa pihak. Padahal produk mahasiswa dalam menulis merupakan salah satu indikator penilaian mutu suatu perguruan tinggi.  (Diakses: Minggu, 16 Juni 2013, http://anisasativa.blogspot.com).

tawuran pelaja  -  destruktif  dan anarkis

Sementara, banyak masyarakat, termasuk siswa, dalam menyampaikan pendapat di media internet semakin berani dan terkadang tidak memperha-tikan kesantunan dan tidak menghargai realitas bangsa Indonesia yang bersifat majemuk tunggal (Bhinneka Tunggal Ika). Penyampaian aspirasi dan penyelesaian masalah lebih mengede-pankan kekerasan dan tindakan destruktif. Di kalangan pelajar sendiri sering terjadi tawuran, bahkan mahasiswa dan buruh dalam berdemons-trasi bersifat anarkis dan destruktif. Di antara penyebab tawuran adalah adanya waktu luang siswa untuk melakukan hal-hal negatif.

Di SMA Negeri 1 Cilacap memang tidak terjadi perkelahian antarsiswa antarsekolah, namun untuk mengantisipasi hal tersebut perlu upaya memberikan kegiatan positif. Sebagai guru PKn saya terinspirasi untuk melakukan gerakan menulis lewat kalawerta sekolah sebagai salah satu strategi untuk membangun kesadaran berkonstitusi, serta memberikan alternatif kegiatan positif. Upaya ini dimaksudkan untuk mengimplementasikan hak berpendapat siswa.

  1. B.    Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang atau pertimbangan di atas, dikemukakan perumusan masalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana memanfaatkan kalawerta sekolah untuk menanamkan kesadaran berkonstitusi ?
  2. Bagaimana faktor pendukung dan penghambat dalam upaya menanamkan kesadarn berkonstitusi ?
  3. Bagaimana dampak adanya kalawertabagi warga sekolah?
    1. C.    Tuiuan

Tujuan dari tulisan ini adalah:

  1. mendeskripsikan dan menginformasikan upaya memanfaatkan kalawerta sekolah untuk menanamkan kesadaran berkonstitusi.
  2. mendeskripsikan dan menginformasikan faktor pendukung dan penghambat dalam upaya menanamkan kesadarn berkonstitusi.
  3. mendeskripsikan dan menginformasikan peningkatan kesadaran berkonstitusi melalui gerakan menulis lewat kalawertasekolah.
    1. D.    Manfaat  

Manfaat dari tulisan ini adalah:

  1. Bagi siswa – dapat menyalurkan ide dan pemikiran serta aspirasinya melalui  tulisan di kalawerta.
  2. Bagi guru PKn – dapat membangun kesadaran konstitusi tentang hak berpendapat lewat tulisan melalui kalawerta.
  3. Bagi sekolah – dapat memberikan sarana dan mengetahui potensi menulis siswa dan guru melalui tulisan melalui kalawerta sekolah.
  4. bagi pemerindah – dapat menghimbau sekolah-sekolah agar membuat kalawerta di sekolah-sekolah lain sebagai sarana penyaluran ide dan pemikiran serta aspirasi siswa.

 

BAB II

LANDASAN TEORETIS

 

Nilai dan aturan yang terkandung dalam konstitusi harus dipahamkan kepada warga negara, dalam hal ini kepada warga negara di lingkungan SMA Negeri 1 Cilacap agar memahami dan menjalankan hak dan kewajiban konstitusionalnya sesuai dengan ketentuan yang ada. Di antara hak-hak konstitusional dalam UUD 1945 adalah hak menyampaikan pendapat dengan tulisan (Pasal 28 dan 28 E Ayat 1) dan jurnalistik (Pasal 28 F).

  1. A.   Menyampaikan Pendapat melalui Tulisan

Kebebasan berekspresi (freedom of expression) menurut Frankiln Delano Roosevelt, Presiden Amerika Serikat yang dinyatakan pada 1 Januari Tahun 1941, merupakan salah satu kebebasan yang dimiliki oleh setiap orang sebagai anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa yang harus dilindungi. Di samping itu, Roosevelt, juga menyampaikan tiga kebebasan lain, yaitu kebebasan beragama (freedom of religion), kebebasan dari rasa takut (freedom from fear), dan kebebasan dari kelaparan (freedom from want).

Pemikiran Roosevelt ini dirumuskan ke dala mdeklarasi hak asasi manusia, yaitu Universal Declaration of Human Rights yang berisi 30 Pasal, di dalamnya antara lain berisi kebebasan berkeskpresi. Kebebasan menyampaikan pendapat melalui tulisan adalah salah satu bentuk kebebasan berekspresi yang harus dihormati.

Di Indonesia, kebebasan menyampaikan pendapat melalui tulisan dijamin oleh Pasal 28 UUD 1945, mendahului lahir Universal Declaration of Human Right yang dideklarasikan 10 Desember 1948. Pasal 28 UUD 1945 menyatakan “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.” Sedangkan Pasal 28 E Ayat 3 UUD 1945 ditegaskan kembali, “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.” Sedangkan Pasal 28 F UUD 1945 menyatakan,

“Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia”.

Dalam UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers yang menggantikan UU Nomor 11 / 1966 jo. UU Nomor 4 / 1967 jo. UU Nomor 21 / 1982 tentang Pokok-pokok Pers, ditegaskan bahwa pers memiliki lima fungsi, yaitu sebagai pemberi informasi, pendidikan, kontrol sosial, sarana hiburan, dan lembaga ekonomi (properti). Sedangkan peranan pers diatur dalam Pasal 6 UU nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, sebagai berikut :

  1. memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui;
  2. menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum, dan HAM, serta menghormat kebhinekaan;
  3. mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar;
  4. melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum;
  5. memperjuangkan keadilan dan kebenaran;

Hak menyampaikan pendapat dengan tulisan ini perlu diimplementasikan di sekolah melalui gerakan menulis lewat kalawerta yang ada, karena sekolah merupakan sarana untuk membangun kesadaran berkonstitusi agar menjadi warga negara yang baik.

 

  1. B.   Kalawerta (Media Massa)

Kalawerta merupakan sarana atau media yang digunakan untuk menyampaikan informasi, pemikiran yang dilakukan melalui tulisan, baik menyangkut berita maupun opini. Penulisan informasi maupun artikel opini dilakukan dengan menggunakan tata tulis jurnalistik maupun karya tulis pada umumnya, yang meliputi pendahuluan, isi/inti/pembahasan, dan penutup, dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sedangkan tata tulis jurnalistik adalah menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dan bersifat padat dan tidak bertele-tele, jelas, dan lugas.

Dalam jurnalistik, kegiatannya meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan     gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.

Dalam UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers ditegaskan bahwa pers memiliki fungsi pokok dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya dalam menyalurkan hak-hak politik, yaitu sebagai konstrol sosial, di samping fungsi informasi, pendidikan, dan hiburan, serta properti (ekonomi). Fungsi-fungsi ini terkait dengan hak-hak konstitusional warga negara.

Sebagai wadah penyaluran aspirasi, maka kalawerta (media massa) yang ada di SMA Negeri 1 Cilacap difungsikan untuk mengembangkan potensi-potensi siswa dalam berbagai hal, tidak hanya aspek kontrol sosial namun aspek-aspek lainnya. Oleh karena itu, kalawerta ini difungsikan sebagai wadah penyampaian pendapat dan aspirasi melalui tulisan.


 

BAB III

PEMBAHASAN

 

Konstitusi merupakan hasil kesepakatan nasional dari setiap warga negara. Sebagai hasil kesepakatan, maka konstitusi mengikat bagi para pembuat kesepakatan. Dalam kehidupan sosial, kesepakatan-kesepakatan tersebut berfungsi sebagai rule of the game. Dalam teori perjanjian masyarakat, menurut John Locke, Kesepakatan untuk mengatur kehidupan bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara (pactum subjectionis) sebagai kelanjutan dari kesepakatan sebelumnya, yaitu kesepakatan untuk membentuk bangsa/negara (pactum unionis).

Bagi bangsa Indonesia pactum subjectionis terwujud dalam UUD 1945 yang berfungsi menjadi pedoman untama dalam kehidupan berbanagsa dan bernegara yang harus diketahui dan dipahami bersama. Ketentuan-ketentuan yang ada di dalamnya harus diimplementasikan ke dalam aturan yang lebih operasional, yaitu peraturan perundang-undangan. Salah satu kesepakatan bersama tersebut adalah adanya kemerdekaan menyampaikan pendapat melalui tulisan dan hak untuk mengembangkan diri melalui informasi. Ketentuan ini tertuang di dalam Pasal 28, 28 E Ayat 3, dan 28 F UUD 1945. Secara khusus, kebebasan menyampaikan pendapat melalui tulisan tersebut terdapat dalam UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Undang-undang ini secara operasional menjadi pedoman dalam menjalankan kebebasan pers di Indonesia.

Sekolah sebagai sarana penanaman nilai-nilai demokrasi, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara harus mengapresiasinya. Sebagai guru PKn, yang saya lakukan untuk itu adalah melalui gerakan siswa menulis lewat kalawerta. Adanya kalawerta sekolah diharapkan dapat mengeskplor potensi-potensi siswa melalui penyampaian pendapat lewat tulisan dengan pembimbingan. Melalui gerakan tersebut diharapkan dapat menyalurkan aspirasi siswa secara konstruktif dan konstitusional, tidak destruktif. Guru PKn dituntut menjadi motor dalam memberikan pembelajaran berdemokrasi, termasuk dalam penyampaian pendapat melalui kalawerta. Melalui gerakan menulis lewat kalawerta, guru PKn dapat menjadi contoh bagaimana menjalankan demokrasi secara sehat, bagaimana menyalurkan aspirasi, pemikiran, dan ide-ide kreatif lewat kalawerta. Dengan keteladanan dalam menyampaikan pendapat secara sehat, konstruktif (bukan destruktif), dan konstitusional, para siswa akan memiliki pemahaman yang lebih baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, di sekolah perlu ada kalawerta sebagai wadah bagi penyampaian aspirasi warga sekolah, khususnya bagi siswa.

Sebagai guru PKn yang memiliki visi peduli dan santun, dalam proses pembelajaran siswa diarahkan menjadi warga negara yang berpengetahuan luas, kritis, jujur dan religius, serta cerdas dalam mensikapi permasalahan, namun tetap santun dalam bersikap, berucap, dan bertindak. Strategi yang  saya kembangkan untuk mewujudkan hal tersebut di SMA Negeri 1 Cilacap adalah melalui pembuatan kalawerta, baik majalah kelas, majalah sekolah, dan merevitalisasi majalah dinding.

  1. A.   Penggunaan Kalawerta untuk Membangun Kesadaran Berkonstusi

Strategi dalam gerakan menulis di kalawerta di SMA Negeri 1 Cilacap terdiri dari majalah sekolah, majalah dinding, dan majalah kelas yang dibuat sebagai tugas bagi kelas XII untuk mengembangkan Pasal 28 dan 28 E Ayat 3, 28 F UUD 1945 sesuai dengan materi yang diajarkan pada semester 2.

  1. 1.    Penggunaan Majalah Sekolah

Majalah sekolah di SMA 1 Cilacap dibuat sejak Tahun Pelajaran 2010/2011, karena adanya aspirasi dan desakan dari seksi jurnalistik SMA 1 Cilacap. Keberadaan majalah sekolah ini sebenarnya telah rencanakan dan disiapkan sejak saya menjadi waka kesiswaan Tahun Pelajaran 2005/2006. Pada saat itu di dalam organisasi OSIS SMA Negeri 1 Cilacap telah sering mengadakan pelatihan jurnalistik dan meminta menyiapkan materi serta membimbingnya untuk majalah sekolah. Mengingat pentingnya majalah sekolah sebagai media menyalurkan bakat, minat, aspirasi, dan pemikran yang baik, sebagai sarana memberikan pengetahuan tentang menyampaikan pendapat melalui tulisan.

Sebagai guru PKn saya memperjuangkan kepada pihak sekolah, namun ada beberapa  kendala yang dihadapi, antara lain:

  1. tidak terkoordinasikannya kegiatan jurnalistik dan belum bisa di penuhinya materi yang seharunya siap untuk dibuat,
  2. tiadanya pengetahuan yang cukup untuk membuat majalah sekolah dari anggota OSIS, sementara ekstrakurikuler jurnalistik belum ada,
  3. tiadanya anggaran dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah.

Sedangkan faktor utama yang menjadi pendorongan kuat agar bisa dibuat majalah sekolah, yaitu:

  1. adanya keinginan kuat siswa agar sekolah membuat majalah sebagai sarana penyaluran aspirasi, pemikiran, dan ide-ide kreatif dan inovatif bagi warga sekolah, khususnya bagi siswa,
  2. adanya respons positif kepala sekolah untuk adanya majalah.

Atas dasar hal-hal tersebut, saya melakukan pendekatan untuk memperjuangkan dan usulan kepada sekolah, agar :

  1. mengalokasikan anggaran untuk mencetak majalah sekolah minimal sekali setahun, kemudian ditingkatkan menjadi 2 atau 3 kali per tahun;
  2. mengadakan ekstrakurikuler jurnalistik bagi para siswa agar tersedia pelaku dari siswa serta melibatkan guru-guru;
  3. mengkoordinasikan organisasi-organisasi siswa dan ekstrakurikuler di sekolah untuk menuliskan aktivitas dan aspirasinya di kalawerta sekolah maupun majalah dinding.

Dengan disepakatinya beberapa hal tersebut oleh pihak sekolah, maka sejak tahun 2010 / 2011 telah dibuat majalah sekolah yang baru bisa terbit satu tahun sekali.  Kendalanya adalah waktu dan anggaran yang belum memungkinkan. Sekalipun demikian, lahirnya majalah sekolah “Perspektif SMAN1C” disambut antusias oleh siswa dan guru. Sebagai upaya menumbuhkan minat menulis bagi guru, setiap menjelang terbit saya mengumumkan kepada para guru untuk menulis. Majalah sekolah yang melibatkan siswa dan guru dalam proses pembuatannya ini juga menyediakan rubrik artikel guru. Walhasil, minat siswa dan guru semakin meningkat dalam menulis.

Majalah ini juga secara khusus membuka rubrik “forum konstitusi” untuk memberikan pemahaman dan membangun kesadaran berkonstitusi. Forum ini saya sendiri yang mengelola dan melibatkan guru maupun siswa untuk mengisi atau menyampaikan gagasannya. Rencana ke depan, forum ini akan membuka tanya jawab tentang konstitusi dalam implementasinya.

  1. 2.    Penggunaan Majalah Dinding (Mading)

Manding hasil lomba di SMA 1 Cilacap

Majalah dinding sebenarnya telah ada sebelum majalah sekolah lahir. Mading ini dikhususkan bagi para siswa. Pengelolaan mading ada yang dikelola oleh OSIS seksi jurnalistik. Mading ini dikelola oleh seksi mading sekolah di bawah koordinasi OSIS dan pembibina ekstrakurikuler jurnalistik. Mading yang dikelola ekstrakurikuler di bawah OSIS pengisiannya diserahkan kepada masing-masing kelas. Di setiap kelas, khususnya kelas X dan XI ada seksi yang mengurusi mading. Sedangkan organisai-organisasi siswa dan ekstra lainnya masing-masing memiliki mading, seperti mading Remaja Masjid, MPK, Larepa, Pramuka.

Untuk meningkatkan pengetahuan tentang tata tulis jurnalistik, ekstrakurikuler jurnalistik bekerja sama dengan ekstrakurikuler majalah dinding dan broadcasting mengadakan pelatihan bersama. Dalam mengisi kegiatan ekstrakurikuler tersebut terutama jurnalistik, karena dalam ekstrakurikuler jurnalistik mencakup ketiganya, yaitu majalah sekolah, majalah dinding, dan broadcasting. Ending-nya, materi jurnalistik diberikan sebagai bekal masing-masing. Namun, antara majalah sekolah dan majalah dinding selalu bekerjasama saling membantu dalam mengisi dan mengembangkan kegiatan kalawerta sekolah. Untuk menggiatkan kembali menulis di majalah dinding diadakan lomba yang diikuti kelas X.

Gerakan menulis lewat kalawerta terkaitan membangun kesadaran menyampaikan pendapat melalui tulisan, pengelola majalah sekolah bekerja sama dengan pembina OSIS, pembina ektrakurikuler, anggota OSIS, dan organisasi siswa lainnya untuk menuliskan setiap aktivitas dan event, seperti (Pramuka, Remaja Islam Masjid Al-Kautsar (RIMA), Majelis Perwakilan Kelas (MPK), serta organisasi-organisasi ekstrakurikuler lainnya) untuk menulis kegiatan dan aspirasinya di majalah dinding maupun majalah sekolah.

  1. 3.    Penggunaan Majalah Kelas

Kalawerta hasil tugas kelas XII

Majalah kelas merupakan majalah yang sengaja dibuat sebagai tugas mata pelajaran PKn untuk mengimple-mentasikan Pasal 28 dan 28 E, dan Pasal 28 F UUD 1945. Gerakan menulis di majalah kelas ini sebagai upaya membangun kesadaran berkonstitusi. Pembuatan majalah kelas ini dilakukan untuk mengembangkan kurikulum, khususnya pada kelas XII dalam Kompetensi “Peranan Pers dalam Masyarakat Demokrasi”.

Majalah kelas sengaja didesain agar para siswa lebih memahami implementasi Pasal 28, 28 E ayat 3, dan 28 F UUD 1945. Oleh karena itu, pembuatan majalah kelas ini tidak membatasi pada materi-materi tertentu yang diberikan dalam lingkup PKn, namun juga pada berbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara pada umumnya, baik masalah politik, hukum, ekonomi, pertahanan, agama, pendidikan, sosial budaya dan life style, ilmu pengetahuan dan teknologi, maupun permasalahan lain yang lebih kontemporer dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

Pembuatan majalah ini direncakan dalam RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Sebelum pembuatan majalah, sejak awal pertemuan pada kompetensi “Peranan pers dalam masyarakat demokrasi” diinformasikan dahulu akan diberi tugas pembuatan majalah kelas yang harus dilaksanakan bersama dalam satu kelas.

Proses pembuatan majalah kelas/kalawerta kelas, dilakukan melalui langkah-langkah :

  1. Penjelasan tentang tugas pembuatan majalah kelas.
  2. Penjelasan langkah-langkah dalam pembuatan majalah kelas.
  3. Pembentukan struktur organisasi majalah kelas.
  4. penjelasan tugas masing-masing (job description) sesuai posisi.
  5. penentuan rubrik-rubrik dan tema utama dalam majalah.
  6. Penjelasan rubrik-rubrik dalam majalah.
  7. Penjelasan jenis-jenis atau macam tulisan dalam jurnalistik/pers.
  8. Penjelasan cara pengisian rubrik-rubrik baik artikel, opini, berita, gambar dan fotografi, dsb. Tulisan-tulisan inilah yang paling utama sebagai upaya implementasi kesadaran berkonstitusi sesuai dengan konstitusi dan dasar negara. Tulisan harus dari pemikiran sendiri sekalipun mengambil dari berbagai sumber dengan tetap memegang nilai kejujuran, yaitu dengan mencantumkan sumber berita atau informasi (tidak plagiat).
  9. Membimbing agar ada time schedule dalam menyelesaikan majalah, yaitu penulisan, penyerahan hasil tulisan kepada sekretaris redaksi (selama satu minggu), penyuntingan (satu minggu), setting/lay out (design) (1–2 minggu), dan pencetakan (1-2 minggu). Tenggang waktu ini cukup panjang, karena siswa juga harus menyelesaikan tugas-tugas lainnya.
  10. Memantau perkembangan dalam pembuatan majalah dengan selalu mengingatkan agar segera diselesaikan.
  11. Penyelesaian majalah diberikan tentanggang waktu sekitar 2 – 3 bulan untuk tugas majalah kelas.

Penilaian dalam kerjasama meliputi dalam pembuatan dan penyelesaian majalah kelas, maupun pendanaan. Mereka yang mendapatkan tugas lebih berat diberikan nilai yang lebih besar dari nilai rata-rata kelas, di tambah 10 – 30  (nilai dalam puluhan dengan rentang 1 – 99). Nilai rata-rata kelas adalah 70. Nilai 70 ini mengingat tidak mudahnya membuat majalah kelas, namun bila tidak ikut menulis maka nilai masih di bawah KKM yang ditentukan sebesar 77.  Dengan demikian, nilai rentang tugas pembuatan majalah adalah 70–100. Bagi siswa yang menulis diberikan nilai antara  80 – 90. Rentang nilai dilihat dari kesantunan dalam berbahasa. Bagi yang terpaksa tidak menulis, maka diberikan remidi melalui tugas merangkum materi tentang Peranan Pers dalam Masyarakat Demokrasi.

Dari tugas tersebut ternyata hampir semua siswa menulis. Jurusan IPA  6 kelas dengan jumlah siswa 210 yang tidak menuis hanya 1 orang sekitar 99,52 %, IPS dari 3 kelas dengan jumlah 95 siswa 100  % menulis, dan Bahasa dari 14 siswa 100 % menulis. Sehingga partisipasi siswa dalam menyatakan pendapat melalui tulisan mencapai 99,68 persen.

Dalam tugas pembuatan majalah ini tampak sikap nasionalisme dan kesadaran para siswa terhadap bangsa dan negara. Mereka memilih tema dan berita yang ditinjau secara cukup kritis terhadap realitas di lingkungan masyarakat, sekolah, daerah, bangsa  dan negara, bahkan permasalahan internasional di mana kita terlibat atau terpengaruh oleh hal tersebut. Melalui majalah kelas ini para siswa melakukan kajian kritis dan konstruktif tentang permasalahan-permasalahan riil yang dihadapi masayarakat, bangsa dan negara, seperti masalah tawuran pelajar, gaya hidup modern yang tidak sesuai, korupsi, narkoba, pergaulan bebas, dan sebagainya.

Penggunaan kalawerta sebagai sarana membangun kesadaran berkonstitusi cukup efektif karena diawali dari membaca, memahami, menuliskan atau menuangkan ide, pemikiran, gagasan maupun informasi ke dalam tulisan serta menyampaikannya kepada orang lain merupakan rangkain dalam membangun kesadaran berkonstitusi yang cukup efektif. Membangun kesadaran berkonstitusi melalui gerakan siswa menulis lewat kalawerta ini ibarat snowballing atau bola salju yang semakin tahu dan paham tentang adanya hak berpendapat melalui tulisan. Pada sisi lain, apa yang ditulis dan disampaikan dapat mempengaruhi orang lain, sehingga semakin mampu menumbuhkan kesadaran berkonstitusi.

 

  1. B.   Kelemahan dan faktor pendukung
  2. 1.    Kelemahan

Kelemahan gerakan menulis lewat  kalawerta ini dalam pelaksanaan, antara lain:

  1. terbatasnya waktu untuk menyiapkan kalawerta secara baik,
  2. rumitnya proses pembuatan majalah,
  3. minimnya pengetahuan menulis di kalawerta dan tidak terbiasa menyampaiakan pendapat melalui tulisan,
  4. performance maupun isi majalah yang kurang menarik sehingga belum memenuhi selera baca siswa karena terbatasnya dana.

 

  1. 2.    Faktor pendukung

Gerakan menulis lewat kalawerta sekolah sebagai upaya membangun kesadaran berkonstitusi ini, antara lain:

  1. adanya dukungan dari kepala sekolah, guru, dan siswa,
  2. adanya ekstrakurikuler jurnalistik yang memberikan bekal kepada pelaksana pembuatan kalawerta,
  3. motivasi dan minat menulis yang besar dari guru dan siswa,
  4. tersedianya dana lewat APBS,
  5. adanya sumber daya manusia di sekolah yang memahami dunia jurnalistik dan bahasa Indonesia yang baik dan benar,
  6. dukungan dari organisasi sekolah dan kegiatan ekstrakurikuler lain terhadap kalawerta di sekolah, seperti adanya pelatihan bersama ekskul mading, broadcasting, dengan ekskul jurnalistik.
  7. C.   Dampak adanya kalawerta bagi warga sekolah
    1. Meningkatnya minat dan tanggung jawab siswa dan guru untuk menyampaikan pendapatnya melalui kalawerta yang ada di lingkungan SMAN 1 Cilacap.
    2. Berkembangnya potensi warga sekolah dalam menyampaikan pemikiran maupaun aspirasinya melalui tulisan di kalawerta yang ada sebagai perwujudan adanya freedom of expression.
    3. Juara 2 Mading di koran Radar Banyumas

      Berpartisipasi dalam lomba-lomba maupun kegiatan jurnalistik dan penulisan artikel di media massa, sehingga meraih juara 1 penulisan artikel tentang Peran BRI oleh Harian Satelit PosBRI Purwokerto dan Juara 2 majalah dinding di Harian Radar Banyumas – Axis se-eks Karesidenan Banyumas dan sebagian Kedu yang meliputi 5 kabupaten, yaitu  Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen (Barlingmascakeb).

  1. Tumbuhnya minat sebagian guru, khususnya guru bahasa Indonesia untuk mendukung minat menulis siswa bersama guru PKn.
  2. Dengan adanya majalah sekolah, website sekolah semakin hidup.

BAB IV

PENUTUP

  1. 1.    Simpulan

Dalam upaya membangun kesadaran berkonstitusi melalui gerakan siswa menulis lewat kalawerta sekolah sebagai implementasi hak berpendapat ini dapat disimpulkan, sebagai berikut:

  1. Adanya kalawerta sekolah di SMA 1 Cilacap sangat positif dan efektif. Melalui kalawerta para siswa dan guru dapat menyampaikan aspirasi dan pendapatnya yang konstruktif melalui tulisan.
  2. Kelemahan utama kegiatan ini adalah waktu yang terbatas untuk mengurusi dan menyiapkan kalawerta. Sedangkan cukup rumitnya proses pembuatan majalah dan minimnya pengetahuan menulis di kalawerta dapat diatasi oleh kru kalawerta sekolah.
  3. Adanya kalawerta sekolah ini memiliki dampak positif bagi para siswa dan guru, seperti tumbuhnya minat menulis, berkembangnya potensi siswa dalam menyampaikan pendapat melalui tulisan, seperti bola salju yang samakin lama terus membesar, dan akhirnya mampu berpartisipasi dalam lomba penulisan jurnalistik.
  4. 2.    Saran-saran / rekomenasi
    1. Bagi Guru

Salah satu tugas guru PKn adalah membangun kesadaran berkonstitusi agar menjadi warga negara yang baik, maka kalawerta di sekolah bisa menjadi salah cara yang bisa digunakan.

  1. Bagi Sekolah

Pihak sekolah perlu memberikan dukungan adanya kalawerta di sekolah karena di samping dapat digunakan untuk membangunan kesadaran berkonstitusi, menjadi sarana pengembangan diri bagi siswa dan guru lain, dan dapat mengurangi aktivitas negatif.

  1. Bagi Dinas Pendidikan

Dinas Pendidikan perlu mendukung adanya gerakan kalawerta di sekolah karena akan memberikan dampak positif antara lain siswa bisa menyalurkan aspirasinya melalui kegiatan yang positif.

Daftar  Pustaka

 

Abidin, Wikrama Iryans, 2005, Politik Hukum Pers Indonesia, P.T. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Budiardjo, Miriam, 1998, Dasar-dasar Ilmu Politik, P.T. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1995, Kamus Besar Bahasa Indonesia – Edisi Kedua, Balai Pustaka, Jakarta.

Harikaryo, Menumbuhkan Minat Baca Sejak Usia Dini, http://harikaryo. wordpress.com, Diakses: Minggu, 16 Juni 2013.

http://otomotif.kompas.com, Tradisi Menulis Lebih Rendah daripada Minat Baca, Diakses: Minggu, 16 Juni 2013,

Kartono, Kartini, 1996, Pendidikan Politik, Mandar Maju, Bandung.

MPR RI, 2008, Undang-undang Dasar RI 1945, Sekretariat Jenderal MPR RI, Jakarta.

Sekjen dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi, 2006, Pendidikan Kesadaran Berkonstitusi, Sekjen dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi, Jakarta.

Sumbu, Telly, dkk., 2010, Kamus Umum Politik dan Hukum, Jala Permata Aksara, Jakarta.

Tebba, Sudirman, 2005, Jurnalistik Baru, Penerbit Kalam Indonesia, Jakarta.

Tohari, Ahmad, 2007, Kamus Dialek Banyumas – Indonesia (Edisi Baru), Yayasan Swarahati, Banyumas.

Triharyanto, Basilius, 2009, Pers Perlawanan – Politik Wacana, Antikolonialisme, Pertja Selatan, Penerbit LKiS, Yogyakarta

http://www.tempo.co, Pembangunan SDM Indonesia Membaik, Diakses: Minggu, 16 JUNI 2013.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply