SMA 1 Cilacap Study Banding Ke Malaysia Dan Singapura

DSC03794_resize

Siswa, Guru, dan TU SMA Negeri 1 Cilacap melakukan studi banding ke sejumlah sekolah di Malaysia dan Singapura. Kegiatan yang dilaksanakan tanggal 24 – 27 Januari 2013 ini diikuti oleh 33 siswa,3 orang tua siswa, 5 alumnus dan 7 Guru pengampu seorang TU.  yaitu Moh. Unggul Wibowo, M.Pd., Drs. Mardiyono (Waka Kesiswaan), Siswarini Widadi N., S.Pd. (Guru Matematika), Dra. Umarliyah (Guru Bahasa Perancis), Dra. Sri Sulasmi (Guru Bahasa Indonesia), Nunung Atik, S.Pd. (Guru Bahasa Inggris), dan Hj. Betrinellis, B.A. (Guru Seni Musik – baru purna tugas), dan seorang TU Nurdiana Aritonang.

Berangkat dari Cilacap, Rabu sore, 24 Januari 2013 menggunakan bus dan tiba di Jakarta sekitar pukul 02.00. Kamis pagi sekitar pukul 05.00 – 07.00 seluruh peserta cek paspor, dan pukul 07.30 bertolak ke Malaysia menggunakan pesawat Air Asia. Tiba di Bandara Internasional LCCT Malaysia sekitar Pukul 09.30, langsung menuju ke Genting Highland.  Dengan menggunakan trem (kereta gantung) ini kami menikmati keindahan panorama alam dan hotel dengan 6.000 kamar.

“Kunjungan ini antara lain bertujuan mengenalkan para siswa tentang sistem pendidikan di luar negeri. Di samping itu, juga untuk lebih menyiapkan siswa menghadapi era global khususnya di bidang pendidikan,” ujar Drs. Mardiyono, pimpinan rombongan – Waka Kesiswaan SMA Negeri 1 Cilacap.

Malamnya, kami menginap di “Wira Hotel” Kualalumpur. Hujan menyambut lebat kami malam itu. Esok harinya kami mengunjungi Sekolah Indonesia Kualalumpur dan diterima baik oleh Kepala Sekolah(Drs Banjir sihite). Sekolah ini milik pemerintah Indonesia yang dikelola Kedutaan Besar Republik Indonesia. Sekolah ini terdiri dari TK, SD, SMP, dan SMA. Para siswa dan guru berasal dari Indonesia dan khusus bagi keluarga KBRI.

Di Sekolah ini, semua pelajaran menggunakan kurikulum dan bahasa pengantar Indonesia. “Di sekolah sama dengan sekolah di Indonesia, yaitu kurikulum dan berbahasa Indonesia sebagai bahasa pengantarnya. Yang khusus di sini adalah Pendidikan Seni Budaya  diajarkan sebagai pelajaran (intrakulikuler).” Kata Ibu Nunik – Waka Humas Sekolah Indonesia Kualalumpur. Ditambahkannya, pengajaran seni budaya ini bertujuan agar para siswa tetap mengenal dan melestarikan kebudayaan Indonesia.

Setelah mengunjungi sekolah tersebut, kami melanjutkan berkunjung ke Perguruan Tinggi ternama di Kualalumpur, “International Islamic University Malaysia” (IIUM) yang didirikan oleh mantan Perdana Menteri (PM) Mahatir Muhammad (Saat itu Perdana Menteri). Pembangunan universitas ini mengunakan konsep Ka’bah (bangunan kampus berbentuk bundar).

Di IIUM ini, kami diterima baik oleh Divisi humas universitas dan diberikan penjelasan seputar pergurun tinggi ini. Mengingat terbatasnya waktu karena tempat ini segera ditutup untuk jumatan (harus ditutup pukul 12,00 – 14.00), maka pihak universitas memberikan CD kepada kami yang isinya menerangkan keberadaan universitas bersangkutan.

Setelah dari IIUM – usai jumatan, perjalanan dilanjutkan ke Twin Tower namun karena hujan lebat kami tidak bisa turun. Twin Tower merupakan bangunan monument salah satu kebanggaan Malaysia. Kendaraan melaju terus menuju “Butik Chocolate”, suatu tempat penjualan berbagai macam jenis  coklat. Perjalanan dilanjutkan menuju Johor bahru. Perjalanan Kualalumpur menuju Johor Bahru membutuhkan waktu 6 jam.

Matahari telah terbenam di peraduan saat kami tiba di Silka Hotel Johor Bahru. Rasa lelah, letih, capek, dan senang bercampur, tak terasa kami terlelap di atas kasur memeluk bantal. Perjalanan yang melelahkan sekaligus menyenangkan telah kami lalui sejak tiga hari lalu, sejak keberangkatan kami dari Cilacap.

Pagi yang indah di tanah seberang telah membangkitkan kami untuk kembali melanjutkan perjalanan sesuai jadwal. Setelah mandi, shalat subuh, dan sarapan pagi perjalanan dilanjutkan menuju negeri jiran yang terkenal karena kedisiplinan, kebersihan, dan patung Singa-nya, Singapura.

Dengan menggunakan bus via jalur darat, kami bertolak dari hotel Silka di Johor Bahru tempat kami melepas lelah sekitar pukul 08.00 menuju Singapura yang hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam perjalanan. Di perbatasan Malaysia – Singapura kami diperiksa petugas pabean. Pemeriksaan di sini cukup ketat – antara lain kami tidak diperkenankan membawa permen karet.

Di Singapura perjalanan dibawa menuju Merlion Park. Di sini terdapat patung singa yang sangat terkenal sebagai simbol negara ini. Setelah menikmati patung singa, kami dibawa ke Universal Studio yang merupakan hiburan yang terintegrasi. Di sini kami menikmati hiburan hingga pukul 18.00 waktu setempat, kemudian meninggalkan Universal Studio menuju Grand C hotel untuk bermalam. Ini adalah malam terakhir rombongan kami study banding ke Malaysia dan Singapura.

Di malam terakhir dari serangkaian tour ini 7 orang siswa (Geovano Satria Wibowo, Vidola rineko Nandya, Reza Mahbub Khatami, Muhammad Haris Maulana Subekhi, Bagas Alam Fadloli, Faisal Umar, Mochammad Affan Bagus Satria) mengunakan MRT (Mass Rapid Transit atau MRT). Di Singapura MRT merupakan suatu sistem angkutan cepat yang menjadi tulang punggung sistem kereta api di Singapura. MRT merupakan sistem transportasi yang meliputi seluruh negara ini) dengan tujuan ke kota Orchard.

Kami naik MRT dengan harga tiket SD$1.30 dari stasiun Little India dengan mengambil jalur ‘North East Line’. transit di stasiun Dhoby Ghaut dan kembali naik MRT melalui jalur ‘North South Line’ dengan tujuan kota Orchard. Sebelum naik MRT, mempelajari melalui gambar peta jalur MRT yang kami simpan di sebuah tablet milik salah satu teman kami dan juga mempelajari peta yang berada tak jauh dari stasiun Little India. Ketika sampai di Orchard , hanya bisa berfoto-foto di karenakan hari sudah malam dan toko serta mall disana sudah tutup. Kami kembali ke hotel sekitar pukul 01.15 waktu singapura. Ketika sampai di stasiun , ternyata sudah tutup . Kami pun pulang menggunakan taksi. Disaat akan naik taksi, disinilah bahasa inggris kita diuji. Dengan menaiki 2 taksi, kami bernegosiasi dengan supir taksi tersebut dengan menggunakan bahasa inggris dan minta diantarkan ke hotel yang letak nya berada di Kitchener Road. Sekitar 10 menit kami sampai ke hotel, saat perjalanan pulang ke hotel kami terjebak macet. Saat itu sedang ada acara  ibadah Thaipusam (perayaan bagi umat hindu) oleh mereka yang beragama Hindu di seluruh dunia untuk menghormati dewa Hindu).Kami pun sampai di hotel sekitar pukul 01.30 waktu Singapura. Dan biaya yang kami bayar untuk taksi adalah sekitar SD$15.75. kami sampai hotel dengan selamat. Ujar Vidola Rineko Nandya.

Esok paginya kami check out dari hotel dan melanjutkan perjalanan menuju bandara “Changi Airport”. Sekitar pukul 08.00 kami terbang kembali ke Indonesia. Di atas pesawat kami dan siswa-siswa membincangkan pengalaman yang telah kami peroleh untuk menjadi bahan perbandingan meningkatkan SMA 1 Cilacap.Tak terasa pesawat telah landing di Bandara Sukarno Hatta pukul 10.00 wib.

Perjalanan dilanjutkan menuju Cilacap, go home. Tiba di SMA 1 Cilacap Minggu, 27 Januari pukul 24.00 wib, alhamdulillah kami semua selamat. Keesokannya – Senin, walaupun rasa lelah itu masih sangat terasa tetapi tanggung jawab sebagai siswa, semua siswa yang mengikuti study banding masuk kembali mengikuti pelajaran, seperti biasa.

“Banyak pengetahuan yang kami peroleh dengan  mengunjungi dua negara jiran. Paling tidak kami, para guru, karyawan, dan siswa-siswa yang peserta studi banding dapat mengenal budaya dan peradaban, tatakrama, sopan santun dari negara lain, serta bagaimana tatakrama berkunjung ke suatu negara,” demikian ujar Siswarini Widadi Narimaningsih S.Pd. Salah seorang Pengampu study banding.

(Siswarini Widadi N., S.Pd.)

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply